
JAKARTA – Dalam upaya menjaga keamanan dan optimalisasi fungsi infrastruktur sumber daya air, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Pusat Monitoring Bendungan menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengukuran Topografi dan Bathimetri. Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam transformasi digital pengelolaan bendungan di Indonesia, dengan fokus utama pada kemandirian operasional.
Selama ini, pemantauan sedimen dan perubahan profil dasar waduk seringkali bergantung pada pihak ketiga. Melalui bimtek yang diikuti oleh seluruh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) se-Indonesia ini, para petugas Unit Pengelola Bendungan (UPB) didorung untuk mampu melakukan survei secara mandiri.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengenalan alat ukur, para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung uji coba dengan alat pengukuran berupa Total Station dan Echosounder atau alat survei bawah air. Pengenalan dasar ini krusial agar petugas memahami mekanisme kerja sensor dan ketelitian data yang dihasilkan.
Setelah penguasaan alat, kegiatan dilanjutkan dengan uji coba lapangan. Petugas melakukan simulasi pengukuran topografi di area greenbelt dan melalukan pengukuran di badan waduk untuk memetakan kontur dasar waduk.
Dengan petugas UPB yang mahir, pengambilan data profil waduk dan volume sedimen dapat dilakukan secara rutin dan mendadak jika diperlukan, terutama pasca bencana gempa bumi. Hasil akhirnya adalah data yang lebih akurat, pemantauan layanan waduk yang lebih presisi dan yang terpenting adalah bendungan yang lebih aman untuk masyarakat.
EC.


